Selain menurunkan berat badan, salah satu efek yang paling banyak diceritakan pengguna Wegovy (semaglutide) dan Mounjaro (tirzepatide) adalah hilangnya “food noise”, yaitu pikiran yang terus-menerus dan mengganggu tentang makanan. Klaim ini kini mulai didukung oleh sejumlah data ilmiah, meski kualitas dan kedalaman buktinya berbeda-beda antara kedua obat.
Apa Itu Food Noise?
Food noise adalah istilah yang menggambarkan pikiran obsesif atau berulang tentang makanan, baik berupa keinginan makan yang sulit dikendalikan maupun bayangan terus-menerus soal makanan tertentu. Kondisi ini banyak dialami orang dengan obesitas dan sering kali menjadi hambatan utama dalam menjaga pola makan sehat, terlepas dari seberapa kuat motivasi seseorang untuk berdiet.
GLP-1: Hormon Utama di Balik Pengaturan Nafsu Makan
Untuk memahami mengapa kedua obat ini bisa memengaruhi food noise, perlu dikenali dulu hormon yang menjadi sasarannya, yaitu GLP-1 (glucagon-like peptide-1). GLP-1 adalah hormon inkretin yang dilepaskan terutama oleh sel L di usus, dan juga dihasilkan di bagian tertentu otak.
Hormon ini berperan sebagai “sinyal utama” yang menghubungkan usus, otak, dan organ metabolik lainnya. Di otak, GLP-1 meningkatkan rasa kenyang, menurunkan nafsu makan, dan ikut mengatur sistem penghargaan (reward) terhadap makanan, sehingga jalur inilah yang diduga berkaitan dengan food noise.
Di lambung, GLP-1 memperlambat pengosongan lambung, dan di pankreas ia membantu mengatur insulin serta glukagon.
Masalahnya, GLP-1 alami sangat cepat dipecah oleh enzim DPP-4 dengan waktu paruh hanya sekitar 1,5–2 menit, sehingga tidak bisa dipakai langsung sebagai obat.
Semaglutide dirancang memiliki kemiripan 94% dengan hormon GLP-1 alami manusia untuk mengoptimalkan kerja hormon tersebut di dalam tubuh. Modifikasi strukturnya membuat obat ini bekerja lebih kuat dan bertahan lebih lama.
Hasilnya, Semaglutide tidak hanya efektif membantu penurunan berat badan, tetapi juga aman bagi tubuh karena risiko memicu respons imun tergolong sangat rendah.
Bukti pada Semaglutide (Wegovy)
Salah satu data paling relevan datang dari survei retrospektif INFORM yang meneliti perubahan food noise setelah pemakaian semaglutide suntik.
Survei ini menemukan bahwa mayoritas responden melaporkan penurunan intensitas food noise setelah memulai terapi, dan manfaat ini dilaporkan terjadi terlepas dari sudah berapa lama mereka menjalani pengobatan.
Dalam survei tersebut, yang diikuti 550 pengguna semaglutide untuk penurunan berat badan (81% di antaranya sudah memakainya minimal 4 bulan), proporsi responden yang mengaku terus-menerus memikirkan makanan turun dari 62% sebelum terapi menjadi 16% setelah terapi. Perlu diingat, angka ini berasal dari laporan responden sendiri, bukan dari uji klinis terkontrol.
Dukungan lain datang dari uji klinis fase 3 STEP-5, di mana semaglutide 2,4 mg terbukti memperbaiki skor pada Control of Eating Questionnaire (CoEQ), sebuah alat ukur standar untuk menilai kemampuan seseorang mengendalikan keinginan makan, dibandingkan dengan plasebo selama 104 minggu pengamatan. Perbaikan ini konsisten dengan gambaran berkurangnya food noise secara subjektif.
Pada studi STEP-5, kontrol terhadap keinginan makan dan keinginan terhadap makanan gurih lebih baik dibandingkan plasebo di setiap titik pengukuran (minggu ke-20, 52, dan 104). Untuk makanan manis, perbaikan terlihat pada minggu ke-20 dan 52, tetapi tidak lagi bermakna pada minggu ke-104.
Bukti pada Tirzepatide (Mounjaro)
Pada tirzepatide, bukti awal datang dari uji klinis fase 1 selama 6 minggu yang mengukur berbagai indikator seperti Food Craving Questionnaire, Food Craving Inventory, Eating Inventory, Power of Food Scale, dan skala visual analog untuk nafsu makan. Dibandingkan plasebo, tirzepatide terbukti menurunkan nafsu makan, rasa lapar, keinginan makan (craving), kecenderungan makan berlebihan, serta reaktivitas terhadap pemicu makanan di lingkungan sekitar.
Penelitian yang lebih eksploratif dari tim Penn Medicine bahkan mencoba merekam aktivitas listrik otak menggunakan elektroda yang ditanam di area nucleus accumbens, bagian otak yang berkaitan dengan dorongan makan impulsif.
Meski penelitian ini baru melibatkan sangat sedikit partisipan dan sifatnya masih sangat awal, hasilnya menunjukkan perubahan pola sinyal otak yang konsisten dengan berkurangnya dorongan makan akibat rangsangan visual makanan.
Namun, tim peneliti mencatat bahwa efek ini pada beberapa kasus tampak tidak bertahan lama dan cenderung melemah seiring waktu, sehingga istilah “sementara” lebih tepat digunakan dibanding “permanen”.
Kenapa Belum Ada Perbandingan Langsung?
Sejauh ini, uji klinis head-to-head terbesar antara kedua obat, yaitu SURMOUNT-5, memang membandingkan semaglutide dan tirzepatide secara langsung, tetapi fokus utamanya adalah persentase penurunan berat badan dan lingkar pinggang, bukan secara spesifik mengukur food noise atau skor pengendalian nafsu makan.
Akibatnya, klaim bahwa salah satu obat “lebih baik” dalam meredakan food noise dibanding yang lain masih bersifat tidak langsung, karena datanya berasal dari studi yang berbeda desain, durasi, dan alat ukurnya.
Sebagai gambaran umum, semaglutide bekerja pada reseptor GLP-1 dan tirzepatide bekerja pada dua reseptor sekaligus (GIP dan GLP-1).
Secara teori, mekanisme ganda ini bisa memberi efek yang lebih luas pada sistem pengaturan nafsu makan di otak, sejalan dengan hasil tirzepatide yang umumnya menghasilkan penurunan berat badan lebih besar. Namun, teori ini belum dikonfirmasi melalui perbandingan langsung khusus tentang food noise.
Perlu diingat pula bahwa kedua obat sama-sama bekerja melalui jalur GLP-1. Tirzepatide menambahkan satu jalur (GIP), tetapi belum terbukti secara langsung apakah tambahan itu membuat food noise lebih reda. Dengan kata lain, “lebih banyak” jalur tidak otomatis berarti hasil yang lebih baik pada setiap orang.
Hal yang Perlu Diingat Pengguna
Ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi:
- * Kedua obat memiliki bukti ilmiah yang mendukung manfaatnya dalam meredakan food noise dibanding plasebo, bukan dibanding satu sama lain.
- * Efeknya bisa bersifat individual; sebagian pengguna melaporkan food noise kembali muncul menjelang jadwal suntikan berikutnya.
- * Pengalaman pengguna di media sosial bersifat anekdotal dan tidak bisa menggantikan data uji klinis terkontrol.
- Konsultasikan dengan dokter untuk menentukan pilihan terapi yang paling sesuai dengan kondisi dan tujuan kesehatan masing-masing.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar