Radang mulut adalah kondisi peradangan yang bisa menyebabkan rasa sakit, sariawan, bengkak, hingga luka di bagian mulut. Kondisi ini bisa dialami siapa saja dan sering kali mengganggu aktivitas sehari-hari, seperti makan dan berbicara. Mengetahui penyebab dan cara mengatasi radang mulut sangat penting agar Anda bisa segera mendapatkan penanganan yang tepat.
Radang mulut dapat dialami oleh siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa. Kondisi ini bisa dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari luka ringan di dalam mulut, infeksi, hingga kekurangan nutrisi. Karena penyebabnya beragam, penting untuk mengenali gejala dan faktor pemicunya agar penanganan yang diberikan sesuai dengan penyebabnya.
Penyebab Radang Mulut
Ada berbagai kondisi yang dapat menyebabkan radang mulut, di antaranya:
1. Luka akibat tergigit atau tergesek
Luka pada bagian dalam mulut merupakan salah satu penyebab radang mulut yang paling sering terjadi. Kondisi ini dapat dipicu oleh kebiasaan tidak sengaja menggigit pipi atau lidah, mengonsumsi makanan bertekstur keras atau tajam, maupun gesekan dari kawat gigi, gigi palsu, atau gigi yang tajam. Gesekan berulang dapat merusak lapisan pelindung mulut sehingga memicu peradangan.
Radang mulut akibat luka biasanya ditandai dengan nyeri atau rasa perih pada area yang terluka, terutama saat makan, minum, atau berbicara. Pada beberapa kasus juga dapat muncul sariawan kecil yang dikelilingi kemerahan. Keluhan ini umumnya membaik dalam waktu 1–2 minggu apabila iritasi dapat dihindari.
2. Infeksi virus, bakteri, atau jamur
Infeksi merupakan penyebab radang mulut yang cukup sering terjadi. Virus herpes simplex dapat menyebabkan lepuhan berisi cairan yang kemudian berubah menjadi luka, sedangkan infeksi jamur Candida dapat memicu kandidiasis mulut. Selain itu, infeksi bakteri pada gusi juga dapat menyebabkan jaringan di sekitar mulut mengalami peradangan.
Gejala yang muncul bergantung pada jenis infeksinya. Penderitanya dapat mengalami bercak putih yang sulit dibersihkan, luka atau lepuhan di dalam mulut, pembengkakan gusi, bau mulut, nyeri saat menelan, hingga demam ringan. Pada kondisi tertentu, infeksi juga dapat menyebabkan pembengkakan kelenjar getah bening di sekitar leher.
3. Kurang menjaga kebersihan mulut dan gigi
Kebersihan mulut yang kurang terjaga dapat menyebabkan penumpukan plak, karang gigi, dan sisa makanan. Kondisi tersebut menjadi tempat berkembangnya bakteri yang dapat mengiritasi jaringan mulut maupun gusi hingga menimbulkan peradangan.
Radang mulut akibat kebersihan mulut yang kurang baik biasanya ditandai dengan gusi yang kemerahan, bengkak, mudah berdarah saat menyikat gigi, serta bau mulut yang menetap. Jika dibiarkan, peradangan dapat berkembang menjadi penyakit gusi yang lebih serius dan meningkatkan risiko gigi goyang.
4. Kekurangan nutrisi tertentu
Tubuh membutuhkan berbagai vitamin dan mineral untuk menjaga kesehatan jaringan di rongga mulut. Kekurangan vitamin B12, vitamin C, zat besi, atau zinc dapat membuat lapisan mulut menjadi lebih tipis, mudah mengalami iritasi, dan lebih lambat sembuh ketika terluka.
Kondisi ini umumnya ditandai dengan sariawan yang sering kambuh, lidah terasa nyeri atau tampak lebih merah, bibir pecah-pecah, serta luka di dalam mulut yang membutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh. Pada beberapa orang, kekurangan nutrisi juga dapat disertai tubuh mudah lelah atau pucat.
5. Stres emosional atau perubahan hormon
Stres berkepanjangan dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh sehingga mulut menjadi lebih rentan mengalami peradangan atau sariawan. Selain itu, perubahan hormon, misalnya saat kehamilan, pubertas, atau menjelang menstruasi, juga dapat meningkatkan sensitivitas jaringan gusi dan mulut.
Gejala yang sering muncul berupa sariawan yang berulang, gusi terasa lebih sensitif, nyeri saat makan makanan tertentu, atau gusi tampak lebih mudah bengkak. Keluhan biasanya membaik setelah tingkat stres menurun atau perubahan hormon kembali stabil.
6. Efek samping obat-obatan
Beberapa jenis obat, seperti antihistamin, antidepresan, diuretik, kortikosteroid, atau obat imunosupresan, dapat menyebabkan mulut kering atau menurunkan daya tahan tubuh, dapat meningkatkan risiko terjadinya radang mulut. Selain itu, kemoterapi dan radioterapi pada area kepala dan leher juga dapat merusak sel-sel sehat di lapisan mulut sehingga menyebabkan mukositis.
Radang mulut akibat kondisi ini umumnya ditandai dengan mulut terasa sangat kering, nyeri hebat, muncul luka yang cukup luas, kesulitan makan maupun menelan, hingga terkadang disertai perdarahan ringan. Karena dapat mengganggu asupan nutrisi, kondisi ini sebaiknya segera mendapatkan penanganan dari dokter.
Cara Mengatasi Radang Mulut
Penanganan radang mulut perlu disesuaikan dengan penyebabnya. Namun, beberapa langkah berikut dapat membantu meredakan gejala sekaligus mempercepat proses penyembuhan:
- Jaga kebersihan mulut dan gigi dengan menyikat gigi menggunakan sikat berbulu lembut sebanyak 2 kali sehari.
- Berkumur dengan obat kumur antiseptik sesuai anjuran dokter atau petunjuk pada kemasan.
- Hindari makanan dan minuman yang terlalu panas, pedas, asam, atau bertekstur keras karena dapat memperparah iritasi dan membuat luka di mulut semakin nyeri.
- Perbanyak minum air putih sebanyak 8 gelas per hari.
- Konsumsi makanan bergizi yang mengandung vitamin B, vitamin C, zat besi, serta zinc untuk membantu mempercepat pemulihan jaringan mulut.
- Gunakan obat pereda nyeri atau gel khusus untuk sariawan sesuai petunjuk penggunaan. Pada beberapa kasus, dokter juga dapat meresepkan obat antijamur, antivirus, atau antibiotik apabila radang mulut disebabkan oleh infeksi.
- Istirahat yang cukup dan kelola stres dengan baik agar daya tahan tubuh tetap optimal, sehingga proses penyembuhan dapat berlangsung lebih cepat.
Dengan mengetahui penyebab dan cara mengatasi radang mulut, Anda dapat mengambil langkah yang tepat untuk mempercepat penyembuhan sekaligus mencegah terjadinya komplikasi.
Jika radang mulut tidak kunjung sembuh setelah lebih dari 2 minggu, terasa sangat nyeri hingga mengganggu makan atau minum, atau disertai demam maupun pembengkakan yang semakin parah, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan dokter.
Sumber : alodokter.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar