Rabu, 15 Juli 2026

5 Penyebab Bayi Sering Gumoh dan Cara Mengatasinya

| Rabu, 15 Juli 2026
Rabu, 15 Juli 2026

Penyebab bayi sering gumoh umumnya berkaitan dengan sistem pencernaan yang masih berkembang. Namun, ada juga berbagai faktor lain yang dapat memicu bayi lebih sering gumoh. Meski terlihat mengkhawatirkan, kondisi ini sebenarnya umum terjadi dan biasanya tidak berbahaya. 

Gumoh terjadi ketika susu atau isi lambung naik kembali ke kerongkongan hingga keluar melalui mulut. Kondisi ini paling sering terjadi pada bayi usia 1–3 bulan karena sistem pencernaannya masih belum berkembang sempurna, terutama otot katup di antara kerongkongan dan lambung.


Meski umumnya tidak berbahaya, penting bagi orang tua untuk mengetahui berbagai penyebab bayi sering gumoh. Dengan begitu, orang tua dapat memberikan penanganan yang tepat sekaligus mengenali kapan gumoh masih tergolong normal dan kapan perlu diwaspadai.

Berbagai Penyebab Bayi Sering Gumoh

Berikut ini adalah  beberapa alasan utama penyebab bayi sering gumoh, beserta penjelasannya:

1. Lambung bayi yang masih kecil

Pada beberapa bulan pertama kehidupan, ukuran lambung bayi masih sangat kecil, kira-kira hanya sebesar kelereng. Kondisi ini membuat bayi hanya mampu minum sedikit susu dalam sekali menyusu.

Jika asupan susu melebihi kapasitas lambungnya, tekanan di dalam lambung akan meningkat sehingga susu lebih mudah mengalir kembali ke kerongkongan dan keluar sebagai gumoh. Oleh karena itu, bayi baru lahir umumnya hanya perlu menyusu dalam porsi kecil, tetapi dengan frekuensi yang lebih sering.

2. Otot sfingter lambung yang belum kuat

Pada bayi baru lahir, otot sfingter yang terletak di antara kerongkongan (esofagus) dan lambung belum berkembang sempurna. Nah, otot ini berfungsi sebagai katup untuk mencegah isi lambung naik kembali ke kerongkongan.

Karena fungsinya belum optimal, susu atau cairan di dalam lambung lebih mudah naik ke kerongkongan dan keluar melalui mulut sebagai gumoh, terutama setelah bayi batuk, menangis, atau banyak bergerak setelah menyusu. Kondisi ini umumnya akan membaik dengan sendirinya seiring bertambahnya usia bayi.

3. Terlalu banyak menyusu dalam sekali waktu

Bayi yang menyusu terlalu banyak atau terlalu cepat, baik langsung dari payudara maupun melalui botol, lebih berisiko mengalami gumoh. Pasalnya, lambung bayi yang masih kecil akan cepat penuh sehingga tekanan di dalamnya meningkat.

Akibatnya, susu lebih mudah naik kembali ke kerongkongan dan keluar melalui mulut sebagai gumoh. Kondisi ini lebih sering terjadi jika bayi tidak diberi jeda saat menyusu atau terus diberi susu setiap kali menangis, padahal belum tentu ia sedang lapar. 

4. Posisi menyusu yang kurang tepat

Posisi bayi saat menyusu juga dapat memengaruhi risiko terjadinya gumoh. Jika kepala bayi sejajar atau lebih rendah dari perut, susu lebih mudah naik kembali ke kerongkongan karena gaya gravitasi tidak membantu menahan isi lambung tetap di tempatnya.

Kondisi ini dapat terjadi, misalnya saat bayi disusui sambil tiduran atau ketika kepala bayi tidak ditopang sedikit lebih tinggi. Oleh karena itu, usahakan kepala bayi berada lebih tinggi daripada perut selama menyusu agar risiko gumoh dapat berkurang.

5. Menelan udara saat menyusu

Bayi dapat menelan udara saat menyusu, terutama jika pelekatan saat menyusu kurang tepat, lubang dot terlalu besar, atau bayi minum terlalu cepat. Udara yang tertelan akan terkumpul di dalam lambung sehingga meningkatkan tekanan di dalamnya.

Akibatnya, saat bayi bersendawa atau bergerak, udara dapat mendorong susu naik kembali ke kerongkongan dan keluar melalui mulut sebagai gumoh. Untuk mengurangi risiko ini, pastikan posisi mulut bayi sudah menempel dengan benar saat menyusu dan bantu bayi bersendawa setelah selesai menyusu. 

Tips Mengurangi Gumoh pada Bayi

Pada umumnya, gumoh bukanlah kondisi yang berbahaya selama bayi tetap aktif, berat badannya bertambah sesuai usianya, serta tidak mengalami keluhan lain, seperti demam, sesak napas, atau rewel berlebihan.

Bahkan, frekuensi gumoh biasanya akan berkurang dengan sendirinya seiring bertambahnya usia dan semakin matangnya sistem pencernaan bayi. Meski begitu, Bunda dapat melakukan beberapa langkah berikut untuk membantu mengurangi frekuensi gumoh pada bayi:

  • Pastikan posisi menyusui sudah tepat, yaitu kepala bayi berada sedikit lebih tinggi daripada perutnya.
  • Berikan ASI atau susu formula dalam porsi sedikit, tetapi lebih sering, agar lambung bayi tidak cepat penuh.
  • Sendawakan bayi setelah selesai menyusu untuk membantu mengeluarkan udara yang mungkin ikut tertelan.
  • Gendong bayi dalam posisi tegak selama sekitar 20–30 menit setelah menyusu dan hindari langsung mengajaknya bermain atau banyak bergerak.

Kapan Gumoh pada Bayi Perlu Diwaspadai

Meski umumnya normal, gumoh pada bayi tetap perlu diwaspadai jika disertai gejala tertentu yang dapat menandakan adanya gangguan pada saluran cerna atau kondisi medis lain. Segera bawa Si Kecil ke dokter jika mengalami salah satu atau beberapa tanda berikut:

  • Gumoh disertai muntah yang menyembur atau muntahan berwarna hijau, cokelat, atau bercampur darah
  • Bayi tampak sangat lemas, sulit atau tidak mau menyusu, dan berat badannya tidak bertambah
  • Gumoh disertai sesak napas, kesulitan bernapas, atau bibir dan ujung jari tampak kebiruan.
  • Bayi terus-menerus rewel, tampak kesakitan, atau perutnya membuncit.

Kondisi-kondisi tersebut perlu segera diperiksa oleh dokter agar penyebab bayi sering gumoh dapat diketahui dan ditangani sedini mungkin.



Sumber : alodokter.com

Related Posts

Tidak ada komentar:

Posting Komentar