Kelahiran bayi dengan berat badan di bawah normal masih menjadi salah satu tantangan kesehatan maternal dan neonatal di Indonesia. Kondisi yang dikenal sebagai Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) ini terjadi ketika bayi lahir dengan berat kurang dari 2.500 gram, terlepas dari usia kehamilannya. Bagi calon ibu, memahami kondisi ini sangat penting agar langkah pencegahan dapat dilakukan sedini mungkin.
Secara medis, terjadinya BBLR tidak terjadi secara tiba-tiba. Ada sebuah alur atau mekanisme patofisiologi yang mendasarinya. Jika kamu ingin memahami lebih dalam mengenai pathway bblr, proses ini umumnya bermuara pada dua kondisi utama: kelahiran prematur (sebelum 37 minggu) atau Intrauterine Growth Restriction (IUGR), yaitu janin tidak tumbuh optimal di dalam kandungan meskipun usia kehamilannya cukup.
Berbagai faktor risiko dapat memicu alur ini, mulai dari gizi buruk pada ibu hamil, anemia, hipertensi dalam kehamilan (preeklamsia), hingga infeksi. Ketika sirkulasi nutrisi dan oksigen dari plasenta ke janin terhambat, pertumbuhan janin akan melambat. Oleh karena itu, mencukupi kebutuhan nutrisi dan vitamin harian selama masa kehamilan adalah kunci utama untuk memutus rantai risiko BBLR.
Memahami Patofisiologi BBLR
Untuk mencegah BBLR, penting bagi kita untuk mengetahui bagaimana kondisi ini bisa terjadi. Alur atau patofisiologi BBLR umumnya melibatkan gangguan pada tiga aspek utama: ibu, plasenta, dan janin itu sendiri.
Pertama, faktor ibu. Jika seorang ibu hamil mengalami malnutrisi (Kekurangan Energi Kronis) atau anemia, volume darah yang dialirkan ke rahim akan menurun. Akibatnya, pasokan glukosa, asam amino, dan oksigen yang seharusnya dipakai janin untuk membelah sel dan menambah berat badan menjadi sangat terbatas. Selain itu, penyakit penyerta seperti hipertensi akan menyebabkan vasokonstriksi (penyempitan) pembuluh darah spiralis di rahim, yang membuat plasenta kekurangan darah (iskemia).
Kedua, faktor plasenta. Plasenta adalah “jembatan kehidupan” bagi janin. Jika plasenta mengalami kalsifikasi prematur, infeksi (korioamnionitis), atau posisinya tidak normal (plasenta previa), fungsi transfer nutrisi akan rusak. Hal ini memicu mekanisme adaptasi janin yang disebut *brain-sparing effect*, di mana janin akan mengutamakan aliran darah ke otak dan jantung, namun mengorbankan organ lain dan jaringan lemak tubuhnya. Inilah mengapa bayi BBLR sering terlihat sangat kurus dengan jaringan lemak di bawah kulit yang sangat tipis.
Ketiga, proses kelahiran prematur. Sebagian besar penambahan berat badan janin terjadi pada trimester ketiga, terutama di atas usia kehamilan 32 minggu. Jika terjadi kontraksi dini akibat infeksi saluran kemih, stres berlebih, atau ketuban pecah dini, bayi terpaksa dilahirkan sebelum organ tubuhnya dan massa ototnya berkembang sempurna. Bayi yang lahir dengan BBLR rentan mengalami hipotermia (kedinginan), hipoglikemia (gula darah rendah), dan gangguan pernapasan (asfiksia) karena paru-parunya belum matang.
Sumber : halodoc.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar